Asuhan Keperawatan Ibu Dengan Myoma Uteri

This item was filled under

A. Pengertian

Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid.

Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%), belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche.

B. Etiologi

Walaupun myoma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti, namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen.

C. Lokalisasi Mioma Uteri

1. Mioma intramural ; Apabila tumor itu dalam pertumbuhannya tetap tinggal dalam dinding uterus.

2. Mioma Submukosum ; Mioma yang tumbuh ke arah kavum uteri dan menonjol dalam kavum itu.

3. Mioma Subserosum ; Mioma yang tumbuh ke arah luar dan menonjol pada permukaan uterus.

D. Komplikasi

1. Pertumbuhan leimiosarkoma.

Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar, sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause

2. Torsi (putaran tangkai)

Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut.

3. Nekrosis dan Infeksi

Pada myoma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor, kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina, dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.

A. Pemeriksaan Diagnostik

1. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun, Albumin : turun, Lekosit : turun / meningkat, Eritrosit : turun

2. USG : terlihat massa pada daerah uterus.

3. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya.

4. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.,

5. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi.

6. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi tindakan operasi.

B. Cara Penanganan Mioma Uteri

Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan, cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan. Adapun cara penanganan pada myoma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal. Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO). TAH–BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus, serviks, kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding, perut pada malignan neoplasmatic desease, leymyoma dan chronic endrometriosis (Tucker, Susan Martin, 1998).

C. Diagnosa Keperawatan

  1. Gangguan eliminasi urin (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasm pada daerah sekitarnnya, gangguan sensorik / motorik.
  2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot
  3. Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak, perubahan dalam masalah kewanitaan, akibat pada hubungan seksual.
  4. Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan terjadinya perdarahan yang berulang-ulang.
  5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.

RENCANA KEPERAWATAN

Dx 1

Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf akibat penyempitan kanalis servikalis oleh myoma

Tujuan

Klien dapat mengontrol nyerinya dengan criteria hasil mampu mengidentifikasi cara mengurangi nyeri, mengungkapkan keinginan untuk mengontrol nyerinya.

Intervensi dan Rasional

1. Observasi adanya nyeri dan tingkat nyeri.

     Memudahkan tindakan keperawatan

2. Ajarkan dan catat tipe nyeri serta tindakah untuk mengatasi nyeri

    Meningkatkan persepsi klien terhadap nyeri yang dialaminya.

3. Ajarkan teknik relaksasi

     Meningkatkan kenyamanan klien

4. Anjurkan untuk menggunakan kompres hangat

     Membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien

5. Kolaborasi pemberian analgesik

      Mengurangi nyeri

Dx 2

Gangguan eliminasi urine (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnnya, gangguan sensorik / motorik.

Tujuan

Pola eliminasi urine ibu kembali normal dengan criteria hasil ibu memahami terjadinya retensi urine, bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan retensi urine.

Intervensi dan Rasional

1. Catat pola miksi dan monitor pengeluaran urine

Melihat perubahan pola eliminasi klien

2. Lakukan palpasi pada kandung kemih, observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri.

Menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien

3. Anjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat,  mengatur posisi, mengalirkan air keran.

Mencegah terjadinya retensi urine

 

Daftar Pustaka

Bagian Obstetri & Ginekologi FK. Unpad. 1993. Ginekologi. Elstar. Bandung

Carpenito, Lynda Juall, 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta

Galle, Danielle. Charette, Jane.2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. EGC. Jakarta

Hartono, Poedjo. 2000. Kanker Serviks/Leher Rahim & Masalah Skrining di Indonesia. Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. Mimbar Vol.5 No.2 Mei 2001

Saifidin, Abdul Bari,dkk. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI. Jakarta

[+/-] Selengkapnya...

STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN IBU NIFAS

This item was filled under

Masalah keperawatan yang bisa diidentifikasi dari seluruh lapangan praktek maternitas  meliputi kurangnya pengetahuan dan keterampilan ibu nifas tentang cara merawat payu dara, perineum, meneteki yang benar, nutrisi, program KB. Perawatan bayi meliputi ; immunisasi, merawat tali pusat dan memandikan, cara mengganti popok, persaingan antar saudara(sibling) mengenal tanda - tanda bahaya. Apabila masalah-masalah keperawatan diatas muncul akan menimbulkan suatu masalah kesehatan dan dapat meningkatkan morbiditas ibu nifas, ini akan menyebabkan waktu dan biaya perawatan masa nifas akan meningkat, yang berarti bisa menimbulkan angka kematian ibu dan bayi. Masalah -masalah keperawatan yang timbul pada masa nifas diatas sebetulnya dapat dicegah dengan memberikan asuhan keperawatan yang baik dan benar sesuai kewenangan perawat. Standar praktek asuhan keperawatan nifas

disusun untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dan merupakan suatu kewenangan melakukan tindakan keperawatan. Tipe standar yang digunakan untuk membuat standar asuhan keperawatan nifas pada makalah ini menggunakan tipe standar normatif, berorientasi kepada praktek keperawatan ideal yang harus diberikan kepada klien nifas.

Dengan pendekatan ini penyusunan standar praktek asuhan keperawatan nifas digunakan pendekatan proses keperawatan meliputi ; Pengkajian, Diagnosa keperawatan, Identifikasi hasil yang diharapkan, Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi (ANA, 1991)

Teori keperawatan yang digunakan adalah teori “Self Care Deficit” yang dikemukakan oleh Dorothea Orem. Filosofi Orem dikatakan bahwa manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan dalam merawat dirinya sendiri. Yang dimaksud dengan self care(perawatan mandiri) adalah aktivitas seseorang untuk menolong dirinya sendiri dalam mempertahankan hidup, kesehatan dan kesejahteraan. Teori keperawatan ini digunakan sebagai dasar dalam memberikan asuhan keperawatan nifas. Perawat profesional bertanggung jawab dalam membantu klien dan keluarga untuk mencapai kemandiriannya. Kemandirian ibu nifas bisa tercapai bila kegiatan asuhan keperawatan didasari adanya kerjasama yang baik antara perawat dalam memberikan pengetahuan dan motivasi kepada ibu nifas dalam memenuhi kebutuhan klien ibu nifas.

Beberapa keuntungan dalam teori bagi ibu nifas yaitu pengetahuan akan meningkat dan akhirnya ibu dan keluarga akan mandiri dalam pemeliharaan kesehatannya. Kemandirian pada ibu nifas sangatlah penting karena setelah pulang, keluarga harus mampu merawat untuk mempertahankan kesehatan dan kesejahteraannya.

Berikut ini penyusunan standart asuhan keperawatan ibu nifas dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan (ANA, 1991).

Pendekatan standar asuhan keperawatan infus dengan menggunakan format proses keperawatan ( ANA, 1991 ) adalah :

A. Standar I. Pengkajian

Pengumpulan data tentang status kesehatan klien nifas ditentukan oleh kondisi/kebutuhan klien saat ini. Pengumpulan data ini dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan dengan menggunakan tehnik-tehnik pengkajian yang tepat dengan melibatkan klien, keluarga dan tenaga kesehatan lain. Data yang diperoleh dikomunikasikan dan dicatat secara lengkap.

1. Riwayat ibu nifas mencakup :

a. Wawancara

- Kebiasaan

- Makanan dan cairan

- Perubahan berat badan

- Pola istirahat dan tidur

- Toleransi aktivitas

b. Pengkajian psikologi

- Status emosional

- Pola koping

- Persepsi terhadap keadaan pasien

c. Pengkajian fisik

- Personal higiene

- Status nutrisi

- Nyeri

- Tanda-tanda vital

- Keadaan fisik pada ibu nifas adalah :

* Payu dara

- Kekenyalan

- Puting susu

* Abdomen

- Diastasis recti abdominis

- Striae

* Gastro intestinal

- Peristaltik

* Uterus

- Tinggi fundus uteri

- Kontraksi

* Perkemihan

- Frekuensi dalam 24 jam pertama

* Lochea

- Warna

- Encer \ kental

- Bau

- Jumlah

2. Pengumpulan data dari sumber

- Pasien, keluarga, orang yang terdekat

- Petugas kesehatan lain

3. Cara pengumpulan data menggunakan metode

- Wawancara

- Observasi

- Inspeksi

- Auskultasi

- Palpasi

Standar II Diagnosa

Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan data status kesehatan yang dikaji dari klien dan keluarga bersama petugas kesehatan.Data tersebut dikomunikasikan dan dicatat untuk memudahkan penentuan hasil dan perencanaan perawatan yang dilaksanakan.

Rasional :

Status kesehatan klien nifas dan keluarga merupakan dasar untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Data dianalisa dan dibandingkan dengan nilai normal.

Kriteria Pengukuran

1. Status kesehatan klien nifas dibandingkan dengan keadaan normal untuk menentukan adanya penyimpangan.

2. Kemampuan dan keterbatasan klien dan keluarga diidentifikasi.

3. Diagnosa keperawatan berkaitan dan selaras dengan diagnosa yang dibuat oleh profesi lain yang memberi asuhan pada klien dan keluarga.

Diagnosa yang sering timbul pada masa nifas antara lain (Bobak, IM Ana Jenzen)

1. Nyeri sehubungan dengan :

· Involusi uterus

· Trauma perineum

· Episiotomi

· Perdarahan

· Pembengkakan payudara

2. Kurangnya volume cairan sehubungan dengan

· Perdarahan post partum

3. Konstipasi dan retensio urine sehubungan dengan

· Ketidak nyamanan post partum

· Trauma jaringan atau otot-otot spincter karena persalinan

4. Resiko cedera sehubungan dengan

· perdarahan postpartum

· efek anestesi

5. resiko tinggi infeksi sehubungan dengan

· trauma jaringan setelah melahirkan

6. Gangguan tidur sehubungan dengan

· Kenyamanan postpartum

· Proses persalinan yang lemah

· Merawat bayi

7. Tidak efektifnya memberikan makan pada bayi sehubungan dengan

· gangguan rasa nyaman

· respon normal fisiologis

8. menurunnya harga diri sehubungan dengan

· pengalaman persalinan yang lalu

9. Gangguan menjadi orang tua sehubungan dengan

· kurangnya pengetahuan dalam merawat bayi

10. Cemas sehubungan dengan

· kurangnya pengetahuan tentang perawatan mandiri

Standar III Identifikasi hasil

Identifikasi hasil ditetapkan dari diagnosa keperawatan berdasarkan kriteria yang dapat diukur dan dirumuskan dengan melibatkan klien, keluarga dan orang yang terdekat bersifat realistis dalam hubungannya dengan kemampuan klien saat ini dan bersifat potensial.

Hasil dapat dicapai sesuai dengan sumber yang tersedia bagi klien. Untuk mencapai hasil harus ditetapkan pula target waktu pencapaian.

Rasional :

Pemantapan hasil yang dicapai merupakan bagian terpenting dari perencanaan asuhan keperawatan,

Kriteria Pengukuran:

1. Hasil ditetapkan dari diagnosa

2. Dirumuskan bersama klien, keluarga dan tenaga kesehatan lain bila memungkinkan.

3. Hasil harus nyata sesuai dengan kemampuan klien saat ini dan kemampuan potensial

4. Hasil apat dicapai sesuai dengan sumber yang tersedia bagi klien.

5. Hasil didokumentasikan sebagai tujuan yang dapat diukur meliputi perkiraan waktu pencapaian dan memberi arah bagi kelanjutan keperawatan.

Pada asuhan keperawatan klien nifas dan keluarga dapat ditetapkan kriteria hasil sesuai dengan diagnosa keperawatan

Kriteria hasil :

1. Tinggi fundus uteri

1-2 jari pertengahan sympisis dan umbilikus, (selama ± 2 hari akan turun 1 ruas jari per hari). Setelah 9-10 hari uterus tidak teraba diatas sympisis.

2. Involusi uterus kembali normal setelah 6 minggu.

3. Perineum dikaji setiap 8 jam dengan posisi sims untuk observasi REEDA

4. Lochea

5. Payudara, produksi laktasi kolostrum pada hari ke 2 dan ke 3

puting susu menonjol keluar, kebersihannya, tidak ada tanda infeksi

6. Abdomen, pada postpartum tonus menurun, lembek,longgar dan lemas, striae alba/nigra, adanya pemisahan otot rectus abdominis pada dua minggu pertama postpartum

7. Gastrointestinal. pada 2 - 3 hari umumnya terjadi konstipasi. Klien merasa sangat haus dan lapar

8. Traktus urinarius, BAK dalam 24 jam pertama terjadi diuresis, B.a.k. harus dalam 6-8 jam setelah melahirkan.

9. Ektremitas bawah, tidak adanya tromboflebitis dan tromboemboli.

10. Istirahat dan tidur, tidak mengalami kesulitan.

11. Psikososial, melihat kemampuan adapatasi ibu menurut Rubbin.

· Taking in, timbul pada jam pertama kelahiran sampai 2-3 hari

Refleksi tentang kehamilan dan proses persalinan

Berfokus pada diri sendiri, perlu tidur dan makan

Dependen tergantung dan pasif

Bertanya-tanya tentang bayinya

· Taking hold. fasenya sampai dengan dua minggu

Merawat diri sendiri

Tidak sabar atas ketidak nyamananya

Fokus melibatkan bayi dan ingin merawat (independen)

Dapat menerima tanggung jawab

Waktu yang baik untuk penyuluhan

· Letting go, fase 3-4 minggu

Merasa ada yang hilang karena tidak hamil

Memandang bayi sebagai bagian dari dirinya yang terpisah

Emosional

· Sosial keluarga

Respon ayah

Adaptasi sibling

Interaksi keluarga

Adanya pembagian tugas

Standar IV Perencanaan

Perencanaan asuhan keperawatan menggambarkan intervensi untuk mencapai hasil yang diharapkan, perencaan ini meliputi tujuan yang dibuat berdasarkan asuhan keperawatan, prioritas dan pendekatan-pendekatan tindakan keperawatan yang ditetapkan.

Rasional :

Tindakan keperawatan direncanakan untuk meningkatkan, memelihara dan memperbaiki kesejahteraan klien.

Perencanaan terhadap aktivitas, pergerakan tubuh istirahat/tidur dan keamanan.

1. Hygiene dan kenyamanan fisik yang meliputi :

· Kebutuhan kebersihan tubuh

· Perawatan mulut

· Perawatan rambut

· Perawatan buah dada

· Perawatan perineum

· Perawatan rektal

· Kebersihan tempat tidur

2. Aktivitas dan kegiatan tubuh yang meliputi :

· Ambulasi

· Latihan aktif maupun pasif

· Posisi yang menyenangkan

3. Istirahat dan tidur

4. Keamanan, meliputi :

· Perhatian keamanan klien pada saat melakukan pergerakan.

· Keamanan klien pada saat dipindahkan

· Perhatikan kondisi lingkungan yang membahayakan klien.

· Mencegah infeksi.

· Rambu-rambu tanda keamanan.

· Menggunakan alat pengaman pada pemakaian alat elektronik.

· Gunakan label pada tempat obat yang dipergunakan.

Untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit, eliminasi, kebutuhan oksigen, mekanisme regulasi, fungsi kognitif/sensori, respon fisiologis dan terapi dan lainnya. Menetapkan intervensi diperlukan untuk mengetahui respon tubuh selama kehamilan dan melahirkan .

1. Nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit

· Catat cairan yang keluar dan masuk

· Status elektrolit diperoleh dari pengkajian klien dan hasil laboratorium

· Kaji terapi intra vena jika klien mendapatkan Intra vena Fluid Drip (IVFD)

2. Eliminasi :

· Buang air besar

· Kaji eliminasi

· Kaji pemberian laksatif

3. Perkemihan

· kaji pemberian diuretik

· Kaji drainase vagina

4. Fungsi kognitif/sensori

· Mengkaji persepsi sensori secara baik

5. Respon fisiologis

· Observasi : warna kulit, tanda vital, kesadaran, reaksi verbal dan tinggi fundus uteri.

Perawat memberikan dukungan pada klien dan keluarga untuk reaksi emosional klien postpartum.

1. Kebutuhan emosional :

· Memberikan dukungan pada klien

· Respek terhadap klien

· Sebagai pendengar yang baik

· Observasi dan mencatat tingkah laku

· Berikan dorongan pada keluarga

2. Kebutuhan spiritual :

· Bantu klien untuk informasi pelayanan religius yang ada di rumah sakit

· Perawat membantu klien dan keluarga selama fase pertengahan postpartum

· Dapat mengambil keputusan untuk memnuhi kebutuhan klien.

3. Informasikan dan motivasi kepada klien dan keluarga :

· Membantu dalam orientasi lingkungan

· Memberitahukan klien sebelum dilakukan pemeriksaan

· Mengembangkan rencana perawatan klien

· Demonstrasikan perawatan mandiri selama periode postpartum dan perawatan bayi selama perioda infant

· Bantu klien dan keluarga dalam perawatan dirumah

· Belajar secara menetail tentang situasi hidup dan kembali kearah realita

· Rencanakan rujukan bila perlu

· Diskusikan rencana selanjutnya dengan anggota kesehatan lain, klien dan anggota keluarga.

Standar V Implementasi

Implementasi merupakan intervensi yang diidentifikasi dari rencana keperawatan bersifat konsisten dengan rencana keperawatan yang dibuat serta didokumentasikan.

Rasional :

Klien dan keluarga secara terus-menerus dilibatkan dalam asuhan keperawatan untuk meningkatkan dan pemeliharaan kesehatan.

Kriteria :

1. Tindakan keperawatan :

· Konsiten dengan rencana asuhan keperawatan.

· Didasarkan pada prinsip ilmiah

· Bersifat individu spesifik untuk situasi tertentu

· Digunakan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan terapiutik

· Memberikan kesempatan belajar mengajar pada klien

· Memanfaatkan berbagai sumber yang tepat

2. Tindakan keperawatan ditentukan oleh kondisi fisik, fisiologis, psikologis dan perilaku sosial klien.

Standar VI Evaluasi

Evaluasi bersifat sistematis dan berkesinambungan yang digunakan untuk merevisi diagnosa hasil dan rencana keperawatan yang dibutuhkan berdasarkan respon klien terhadap intervensi yang didokumentasikan.

Dalam evaluasi ini klien, keluarga dan petugas kesehatan ikut terlibat.

Rasional :

Proses keperawatan tetap sama tetapi masukan berupa informasi baru dapat mengarahkan kepada pendekatan baru.

Kriteria Pengukuran :

1. Pengkajian ulang diarahkan oleh tercapai tidaknya tujuan.

2. Prioritas dan tujuan baru diterapkan secara pendekatan keperawatan lebih lanjut dilakukan dengan tepat dan akurat.

3. Tindakan keperawatan yang baru ditetapkan dengan tepat dan cermat.

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Beare, P. G. ed.(1994). Davis’s NCLEX - PN Review, hal 367-368. Philadelphia. FA Davis Company.

Haris, C. H. (1993)., Legal and Ethical Issues. dalam Bobak, I. M dan Jenzen, M.D Maternity and Gynecologid Care: The Nurse and The Family. ed. 5. st. Louis. CV Mosby Co.

ANA. (1991). Standart of Clinical Nursing Practise, Washington, D. C, American Nurses Publishing.

Orem, D. E. (1971), Nursing Concepts of Practise, New York Mc. Graw - Hill

Prawiroharjo. S (1992), Ilmu Kebidanan, Jakarta.Yayasan Bina Pustaka.

Irawati, D. (1996), Standart Praktek Keperawatan, Tidak dipublikasikan, Jakarta; Bahan Kuliah FIK-UI.

Sahar, J. (1996), Standart Praktek Keperawatan, Disampaikan pada kuliah Manejement Keperawatan, Jakarta. FIK - UI

[+/-] Selengkapnya...

Asuhan Kebidanan Multi Gravida dengan Hypertensi Kronis

This item was filled under

Batasan/Pengertian

Adapun batasan/pengertian Asuhan Kebidanan Multi Gravida dengan Hypertensi Kronis adalah :

Asuhan Kebidanan

Asuhan Kebidanan berdasarkan rumusan berbagai pakar dijelaskan sebagai berikut :

Asuhan Kebidanan adalah aktifitas atau intervensi yang dilaksanakan oleh bidan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/permasalahan khususnya dalam bidang KIA/KB. (Syahlan. JH, 1993 : 3)

Asuhan kebidanan merupakan bagian dari pelayanan yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga dalam rangka tercapainya keluarga kecil bahagia dan sejahtera. (Santosa. NI, 1995 : 16)

Manajemen kebidanan adalah metode dan pendekatan pemecahan masalah kesehatan ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan di dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat. (Santosa. NI, 1995 : 17)

Multi Gravida

Multigravida adalah seorang wanita yang telah beberapa kali hamil. (Sastrawinata. S, 1983 : 156)

Hypertensi Kronis Dalam Kehamilan

Hypertensi kronis dalam kehamilan adalah adanya penyakit hypertensi yang telah terjadi sebelum hamil ataupun diketemukan sebelum usia kehamilan 20 minggu atau hypertensi yang menetap 6 minggu paska persalinan, apapun yang menjadi sebabnya. (Winardi. B, 1991 : 2)

Batasan/Konsep Dasar Hypertensi Kronis

Batasan

Penyakit hypertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan nifas. (Sastrawinata. S, 1984 : 90)

Klasifikasi Hypertensi

Menurut American Committee and Maternal Welfare yang dikutip oleh Sulaeman Sastrawinata dalam buku Obstetri Patologi tahun 1981, klasifikasi hypertensi adalah sebagai berikut :

Hypertensi yang hanya terjadi dalam kehamilan dan khas untuk kehamilan ialah preeklampsia dan eklampsia.

Hypertensi Kronis

Diagnosa dibuat atas adanya hypertensi sebelum kehamilan atau penemuan hypertensi sebelum minggu ke 20 dari kehamilan dan hypertensi ini tetap setelah kehamialn berakhir.

Preeklampsia dan eklampsia yang terjadi atas dasar hypertensi yang kronis. Pasien dengan hypertensi yang kronis sering memberat penyakitnya dalam kehamilan dengan gejala-gejala hypertensi yang naik, proteinuri dan edema serta kelainan retina.

Transient Hypertensi

Diagnosa dibuat kalau timbul hypertesi dalam kehamilan atau dalam 24 jam pertama dalam nifas pada wanita yang tadinya normotensi dan yang hilang dalam 10 hari post partum.

Derajad Beratnya Hypertensi Akibat Kehamilan

Hypertensi akibat kehamilan dapat diklasifikasikan ke dalam bagian ringan atau berat, menurut frekuensi dan intensitas kelainannya. Adalah penting untuk menyadari bahwa suatu keadaan yang kelihatannya ringan dapat menjadi berat. (Winardi. B, 199: 8)

Tabel Indikator Derajad Beratnya Hypertensi Akibat Kehamilan

Kelainan                                     Ringan                          Berat

Tekanan Distolik                             < 100mmHg                                 > 110mmHg

Proteinnuri                                                  1+                                       ³ 2+

Sakit kepala                                          tidak ada                                 ada

Gangguan penglihatan                    tidak ada                                 ada

Nyeri perut atas                                  tidak ada                                 ada

Oliguri                                                    tidak ada                                 ada

Kejang                                                     tidak ada                                 ada

Creatinin serum                                     normal                             meningkat

Trombosito penia                                  tidak ada                                 ada

Hyperbilirubinemia                             tidak ada                                 ada

SGOT                                                          minimal                              nyata

Fetal Growth Retardasion                   tidak ada                            ada jelas

Sumber : Pritcard, Mac Donald, Giant. William Obstetri, 1991 : 612

Patofisiologi Hipertensi Kronis

Terdapat banyak akibat hypertensi karena kehamilan yang terjadi pada ibu, berikut akan dibahas berdasarkan analisa kelainan kardiovaskuler, hematologik, endokrin, elektrolit, renal, hepatik dan serebral. (Pritchard, Mac Donald, Gant. 1991: 616)

Sistem Kardiovaskuler

Meskipun terdapat peningkatan curah jantung pada ibu hamil normal, tekanan darah tidak meningkat, tetapi sebenarnya menurun sebagai akibat resistensi perifer berkurang. Pada ibu hamil dengan hypertensi, curah jantung biasanya tidak berkurang, karena curah jantung tidak berkurang sedang konstriksi arteriol dan tahanan perifer naik, maka tekanan darah akan meningkat. (Pritchard, Mac Donald, Gant. 1991 : 616)

Hematologik

Perubahan-perubahan hematologik penting yang ditemukan pada wanita hypertensi ialah penurunan atau sebenarnya tidak terjadinya hypervolemia yang normal pada kehamilan, perubahan-perubahan mekanisme koagulasi dan adanya peningkatan dekstruksi eritrosit. (Pritchard, Mac Donald, Gant. 1991 : 619)

Endokrin

Pada kehamilan normal, kadar plasma renin, angiotensin II dan aldosteron meningkat. Sebaliknya pada hypertensi karena kehamilan, bahan tersebut biasanya menurun mendekati batas normal pada keadaan tidak hamil.

Peningkatan aktivitas hormon anti deuritik juga menyebabkan oliguri, kadar chorionic gonadotropin dalam plasma meningkat secara tidak tetap sebaliknya lactogen placenta menurun. (Pritchard, Mac Donald, Gant. 1991 : 620)

Cairan dan Elektrolit

Biasanya volume cairan ekstraselular pada wanita dengan preeklampsia dan eklampsia sangat bertambah melebihi penambahan volume yang biasanya terjadi pada kehamilan normal. Mekanisme yang menyebabkan ekspansi cairan yang patologis belum jelas. (Pritchard, Mac Donald, Gant. 1991 : 621)

Perubahan Hepar

Pada HKK (Hipertensi Karena Kehamilan) yang berat, kadang terdapat kelainan hasil pemeriksaan hati yang meliputi peningkatan SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminace), hyperbilirubin yang berat jarang terjadi. (Pritchard, Mac Donald, Gant. 1991 : 623)

Pengaruh Hipertensi Terhadap Kehamilan

Sebagai akibat penurunan sirkulasi uteroplasenta maka konsumsi makanan terhadap janin juga mengalami penurunan. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan badan janin merupakan akibat yang paling sering, dalam penelitian mendapatkan frekuensi 15% bayi IUGR dan 27% bayi premature walaupun dilakukan perawatan standart. (Winardi. B, 1991 : 5)

Diduga bahwa kapasitas nutrisi plasenta dalam keadaan tersebut dipacu oleh peningkatan tekanan perfusi, dengan ini pula maka peningkatan klirens dehidroisoandosteron sulfat. (Winardi. B, 1991 : 6)

Solusio placenta sejak lama diketahui lebih sering dijumpai pada ibu dengan hypertensi. Insiden tertinggi didapatkan pada ekslampsi 23,6% disusul hypertensi kronis 10% dan pre eklampsi 2,3%.(Winardi. B, 1991 : 6)

Pengaruh Kehamilan Terhadap Hypertensi

Dikatakan 60% dari wanita yang menderita hypertensi kronis, pada saat hamil akan mengalami kenaikan tekanan darah, 15-30% mempunyai resiko untuk mendapatkan superimposed pre eklampsia.

Resiko terjadinya superimposed pre eklampsi tidak tergantung pada tingkat hypertensinya. Bila terjadi penurunan fungsi renal (BUN > 20mg%) kreatinin serum > 1,5mg% pada keadaan hypertensi kronis, maka resiko terjadinya superimposed pre eklampsi mendekati angka 100%.

Dengan meningkatnya tensi pada saat hamil maka resiko lain juga menjadi lebih tinggi misalnya infark miokard akut, CVA, payah jantung, gagal ginjal, hematuria. (Winardi. B, 1991 : 6)

Diagnosa

Diagnosa hypertensi ditegakkan dengan pengukuran secara serial dalam waktu berbeda-beda, dengan selang waktu beberapa jam sampai beberapa hari, teknik pemeriksaan sangat penting diperhatikan, karena harus dilakukan dengan benar. (Winardi. B, 1991 : 7)

Cara Pengukuran

Cara pengukuran tekanan darah yang dianjurkan adalah sebagai berikut :

1. Memakai alat sphygnomanometer air raksa dengan menggunakan sthetoscope yang baik (peka)

2. Posisi duduk praktis untuk skrining

3. Posisi berbaring lebih memberikan hasil yang bermakna

4. Lengan atas harus bebas dari baju yang ketat

5. Memakai cuff yang sesuai (dapat melingkari 2/3 panjang lengan atas). (Winardi. B, 1991 : 7)

Diagnosa hypertensi kronis

Diagnosa hypertensi kronis harus memnuhi kriteria sebagai berikut :

1. Terjadi sebelum hamil atau sebelum 20 minggu kehamilan

2. Tidak ada proses mola (Winardi. B, 1991 : 7)

Apabila penderita datang pertama kali sesudah minggu 20-24 kehamilan, sulit untuk membedakannya dengan PIH. Secara khusus kita bisa mengadakan diagnosa banding dengan beberapa ciri yang agak berbeda dengan PIH.

Sumber : Winardi, B. 1991. Hipertensi Kronis Pada Wanita Hamil : 8

Pemeriksaan Labotarium

Pemeriksaan pendahuluan diperlukan untuk menyingkirkan penyakit yang secara sekunder dapat menyebabkan hypertensi antara lain :

1. Faal ginjal : untuk mengetahui kemungkinan penyakit ginjal menahun seperti pielonefritis akut, polikistik,dll.

2. Cultur urine : untuk mengetahui kemungkinan infeksi ginjal.

(Winardi. B, 1991 : 8)

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakan diagnosa hipertensi kronis adalah sebagai berikut :

Pemeriksaan mata : dengan funduscopy untuk evaluasi lamanya penyakit diderita

Pemeriksaan jantung : dengan bantuan ECG dapat kita diagnosa adanya komplikasi pembesaran jantung yang menggambarkan lamanya proses hypertensi.

(Winardi. B, 1991 : 8)

Pemantauan Kesejahteraan Janin

Oleh karena penyakit hypertensi kronis sering kali menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin, maka pemantauan kesejahteraan janin mutlak harus dilakukan. Pemantauan bisa dilaksanakan dengan cara paling sederhana berupa pemantauan pertambahan berat badan, tinggi furdus uteri hingga paling canggih dengan pamakaian USG, NST dll. (Winardi. B, 1991 : 9)

Penatalaksanaan

Tujuan dari pengelolaan/pengobatan penderita hypertensi kronis pada wanita hamil adalah :

Untuk mempertahankan aliran darah pada uterus terutama pada saat pembentukan plasenta.

Usaha – usaha yang di perlukan untuk mencapai usaha tersebut adalah :

Tirah baring

Tirah baring terutama pada siang hari mulai setidak-tidaknya 1 jam dalam sehari dan ditingkatkan sesuai umur kehamilan. Curet menganjurkan bed rest selama 4 jam pada siang hari disamping tidur malam 10 jam. (Winardi. B, 1991 : 10)

Keunggulan tirah baring ini dapat meningkatkan perfusi utero placenta terutama pada posisi tidur miring kiri.

Tirah baring absolut tidaklah diperlukan. Dikatakan bahwa absolute bed rest dapat meningkatkan resiko embas paru. Selain itu dari segi psikologis ibu kurang menguntungkan. Pada hypertensi yang berat disarankan tirah baring sampai saat persalinan.

Pemberian Obat

Pemberian phenobarbital dikatakan dapat meningkatkan keberhasilan program tirah baring ini. Apabila tirah baring dan pemberian sedatif ringan tak memberikan respon, perlu dipikirkan pemberian anti hypertensi. (Winardi. B, 1991: 12)

Diet

Diet yang baik diperlukan bagi pertumbuhan janin dalam rahim. Kandungan protein minimal 90 gr setiap hari. Diet rendah garam tidak ada keuntungan, bila didapatkan proteinuri maka suplement pengganti protein yang hilang harus dipikirkan. Pada penderita obesitas ada baiknya menurunkan berat badan. (Winardi. B, 1991 : 12)

Untuk mengendalikan hypertensi dan mencegah superimposed pre eklampsia/eklampsia.

Pada hypertensi ringan terapi yang diajarkan adalah tirah baring saja dengan pemantauan yang rutin 2x seminggu, sampai minggu ke 30, sesudahnya seminggu sekali, bila perlu dapat diberikan phenobarbital, juga diet seimbang karbohidrat. Sedangkan obat anti hypertensi yang sering dipakai adalah alfa metildopa, beta blockers, hidralazin, clonidine, prazosun, antagonis kalsium, diuretikum. (Winardi. B, 1991 : 12)

Pengakhiran kehamilan bila keadaan menjelek atau terjadi gangguan pertumbuhan janin, apabila janin mampu hidup diluar tubuh ibu.

Oleh karena disfungsi plasenta seringkali terjadi pada hypertensi esensial yang berat, dan kematian bayi pada umur kehamilan 38 mg tidak berbeda dengan kehamilan aterm, maka induksi persalinan dianjurkan.

Indikasi penyelesaian kehamilan dapat datang dari ibu maupun janin, indikasi itu meliputi:

Peningkatan serum kreatinin > 50% dari pemeriksaan sebelumnya, gangguan neurologik berat, platelet count dibawah 100x109/1, hypertensi tak terkontrol, peningkatan serum bilirubin.

Indikasi anak : berkurangnya pertumbuhan dan pergerakan janin, maturitas paru, kardiotokografi abnormal.

Cara penyelesaian persalinan dilakukan sesuai dengan situasi dan persyaratan yang ada. (Winardi. B, 1991 : 19)

Konsep Asuhan Kebidanan Pada Ibu Multi Gravida Dengan Hypertensi Kronis

Penerapan manajemen kebidanan dalam bentuk kegiatan praktik kebidanan dilakukan melalui proses yang disebut langkah-langkah proses manajemen kebidanan. Langkah-langkah itu meliputi : pengkajian, analisa data, diagnosa, masalah dan kebutuhan, intervensi, implementasi dan evaluasi hasil tindakan.

Proses manajemen kebidanan merupakan proses yang terus menerus dilaksanakan, dan kemudian timbul masalah baru maka proses kembali ke langkah pertama. (Santosa. NI, 1995 : 6)

Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dalam melaksanakan asuhan kebidanan. Kegiatan yang dilakukan adalah anamnesa, pemeriksaan data obyektif yang meliputi palpasi, auskultasi, perkusi, inspeksi serta pemeriksaan penunjang.

Anamnesa

Anamnesa ialah tanya jawab antara penderita dan petugas kesehatan tentang data yang diperlukan.

Tujuan anamnesa meliputi : untuk mengetahui keadaan penderita, membantu menegakkan diagnosa dan agar dapat mengambil tindakan segera bila diperlukan. (Ibrahim. C,1996 : 80)

Hal-hal yang ditanyakan pada saat anamnesa meliputi :

Anamnesa

Rasional

1.      Anamnesa Umum

Biodata terdiri darai nama klien dan suami, usia, suku bangsa, agama, pendidikan terakhir, pekerjaan dan penghasilan serta alamat.Pada penderita dengan Hipertensi Kronis, usia biasanya lanjut atau lebih dari 35 tahun.

2.      Anamnesa kesehatan keluarga

Terdiri dari penyakit keluarga klien, apa ada yang menderita penyakit keturunan (asma), diabetes mellitus, haemophili keturunan kembar dan penyakit kronis. Pada penderita dengan Hipertensi Kronis ditanya pula apakah dari pihak keluarga ada yang menderita penyakit hipertensi.

3.      Anamnesa kesehatan klien

Yang perlu ditanyakan adalah sakit kepala, gangguan mata, nyeri perut atas, dan apakah sebelum hamil atau sebelum usia kehamilan 20-21 minggu pernah menderita hipertensi .

4.      Anamnesa kebidanan terdiri dari

Riwayat kehamilan ini ( keluhan nutrisi, pola eliminasi, astifitas, pola istirahat/tidur, seksualitas, imunisasi)

Riwayat menstruasi (menarche, lama haid, siklus, jumlah darah haid, dismenorrhae, keluhan, hari pertama haid terakhir, fluor)

Riwayat kehamilan, persalinan, nifas dan KB yang lalu, apakah pernah disertai dengan hipertensi.

Dengan adanya biodata kita dapat mengenal klien serta diketahui permasalahan yang timbul sehingga lebih terbuka membicarakan masalah kepada petugas kesehatan. (Ibrahim. C, 1996 : 81)

 

 

 

Dengan menanyakan penyakit/kesehatan keluarga dapat diketahui penyakit yang mempengaruhi kehamilan, langsung ataupun tak langsung. (Ibrahim. C, 1996 : 83)

 

 

 

 

Dengan menanyakan gangguan subyektif kepada klien dapat membantu menegakkan diagnosa

 

 

 

Dengan menanyakan riwayat kehamilan sekarang diharapkan petugas kesehatan mengetahui keadaan kehamilannya. (Ibrahim. C, 1996 : 85)

Dengan menanyakan riwayat menstruasi untuk membantuk menegakkan diagnosa (umur kelahiran) dan tafsiran persalinan

 

Dengan menanyakan riwayat kehamilan, persalinan, nifas, KB yang lalu maka petugas kesehatan dapat memperkirakan kelainan pada kehamilan maupun persalinan

Pemeriksaan Umum

Pemeriksaan umum adalah pemeriksaan yang lengkap dari penderita untuk mengetahui keadaan atau kelainan dan penderita.

Tujuan dari pemeriksaan umum : untuk mengetahui kesehatan umum ibu dan mengetahui adanya kelainan yang dapat mempengaruhi kehamilan. (Ibrahim. C,1996: 87)

Pemeriksaan umum pada ibu hamil dengan hypertensi kronis meliputi :

No

Pemeriksaan

Rasional

1.

 

 

 

2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.

Keadaan umum meliputi :

-       Postur tubuh klien (tinggi atau pendek) bentuk perut klien, ekspresi klien (lesu, pucat atau senang). (Ibrahim. C, 1996 : 87)

Tanda-tanda vital

-       Tekanan darah : pada usia kehamilan 20-30 minggu. Normalnya pada wanita hamil dibagi menurut umur sebagai berikut :

20 tahun        : Tekanan darah 120/80 mmHg

        20-30 tahun     : Tekanan darah 110/70 mmHg

         (Ibrahim. C, 1996 : 91).

Pada penderita dengan hipertensi kronis didapatkan tekanan darah   >140/90 mmHg sebelum hamil atau sebelum usia kehamilan  20-21 minggu.

-       Nadi : dihitung 15 menit dikalikan empat, menghitung dengannadi pada pergelangan tangannya. (Bouwhizen. M, 1986 : 28)

 

 

-       Suhu : suhu badan normalnya 36,5oC-37.5oC. (Bouwhizen. M, 1986 : 14)

 

 

 

 

 

-       Respirasi : respirasi dihitung dari keteraturan pernapasan  normalnya 18-24 x 1 menit. (Bouwhizen. M, 1986 : 28)

 

 

 

 

Mengukur berat badan

Beratbadan pertambahannya sampai hamil genap bulan lebih kurang 11-11,5 kg sehingga kenaikan rata-rata berat badan setiap minggu 0.5 kg. (Ibrahim. C,1996 : 110)

Pada penderita Hipertensi Kronis yang mengarah kearah superimposed pre eklampsia didapatkan kenaikan berat badan yang melebihi dari normal.

Mengukur tinggi badan

Pengukuran tinggi badan dilakukan pada ibu yang pertama kali datang. Tinggi badan tidak boleh £ 145 cm. (Manuaba. IBG, 1998 : 37)

 

Mengukur lingkaran lengan atas (LILA) normalnya ³23,5 cm. (Santosa. NI, 1995 : 67)

 

Dengan melihat keadaan umum pasien atau klien dapat diketahui keadaannya normal atau menunjukkan adanya kelainan

 

Pada wanita hamil yang dikatakan darahnya lebih dari normal perlu mendapat pengawasan dan nasehat untuk banyak istirahat dan pengaturan denyut

Pada penderita yang mengalami kehilangan darah maka frekuensi denyut nadi pergelangan tangan akan meningkat dan denyutnya lebih sukar diraba

 

Pada penderita dengan suhu tubuh lebih dari 38oC menunjukkan orang yang bersangkutan mengalami demam, kalau suhu tubuh kurang dari 35oC maka orang tersebut mengalami suhu rendah.

 

Dengan menghitung pernapasan dapat kita ketahui apakah pernapasan penderita terhenti sama sekali atau tidak, sehingga perlu segera diambil tindakan untuk menyelamatkan penderita

Dengan mengukur berat badan dan memantau hasilnya. Pada kenaikan berat badan yang lebih dari 0,5 tiap minggunya dan disertai adanya aedema pada trimester III harus diwaspadai

 

 

Dengan mengukur tinggi badan dapat kita ketahui apakah ibu hamil masih belum katagori resiko tinggi atau resiko rendah

Dengan mengukur LILA dapat diketahui status gizi ibu (apakah mengalami kekurangan energi kalori atau tidak)

Pemeriksaan fisik dibagi menjadi :

1. Pemeriksaan Inspeksi ialah

Pemeriksaan Inspeksi ialah

memeriksa penderita dengan melihat atau memandang.

Tujuan dari inspeksi ialah melihat keadaan umum penderita melihat gejala-gejala kehamilan dan kemungkinan adanya kelainan-kelainan. (Ibrahim. C,1996: 111)

Hal-hal yang diperiksa

Rasional

Kepala dan muka (muka, mata, hidung, bibir dan gigi),  apakah ada oedema dan gangguan penglihatan.

 

Keadaan leher (kelenjar gondok, linfe, struma, pembesaran vena jogularis)

 

 

Keadaan buah dada (betuk, warna kelainan, puting susu, coloustrun)

 

 

 

Keadaan perut (bentuk perut, pembesaran, striae, linea, luka parut)

 

 

Keadaan vulva (aedema, tandu chadwik, varisei, fluxus, flour, candi lama)

 

 

Keadaan tungkai (aedema, varises, luka dari pangkal paha samapai ujung kaki)

 

Dengan melihat kepala dan muka dapat disampaikan keadaan klien sehat, gembira, sakit atau sedih. (Ibrahim. C, 1996 : 112)

Dengan melihat keadaan leher adalah pembesarannya kemungkinan adanya gangguan kardiokvasikuler. (Ibrahim. C, 1996 : 113)

 

Dengan melihat keadaan buah dada dapat diketahui bentuk puting susu sehingga bila ada kelainan harus mendapat perawatan atau pemeliharaan yang baik. (Ibrahim. C, 1996 : 114)

Dengan melihat perut bila ada luka parut mungkin akan berpengaruh atau mempengaruhi kehamilan dan persalinan. (Ibrahim. C, 1996 : 114)

Dengan melihat keadaan vulva untuk mencegah terjadinya infeksi waktu persalinan maupun nifas. (Ibrahim. C, 1996 : 115)

Dengan melihat anggota bagian bawah terutama tungkai dapat dipakai untuk menegakkan diagnosa. (Ibrahim. C, 1996 : 115)

2. Pemeriksaan Palpasi

Pemeriksaan palpasi ialah memeriksa klien dengan meraba. Tujuan dari pemeriksaan palpasi meliputi usia kehamilan, posisi, letak dan presentasi janin serta adanya kelainan.

Hal-hal yang diperiksa meliputi :

              Pemeriksaan

                 Rasional

Leher meliputi kelenjar thygroid, linfe dan vena jogularis

Dada meliputi benjolan, nyeri tekan pada payudara, pengeluaran coloustrum

 

Abdomen meliputi leopold I, II, III, IV

 

 

Tungkai

Dengan pemeriksaan palpasi pada leher untuk mengetahui kelainan seacara dini

Dengan pemeriksaan dada untuk mengetahui adanya tumor payudara dan pengeluaran coloustrum

Dengan palpasi abdomen maka dapat diketahui usia kehamilan dan posisi janin

 

 

Dengan palpasi tungkai maka dapat diketahui adanya kelainan yang menyertai kehamilan. (Ibrahim. C, 1996 : 121)

3. Pemeriksaan Auskultasi

Pemeriksaan auskultasi adalah memeriksa klien dengan mendengarkan detil jantung janting, untuk menentukan keadaan janin didalam rahim hidup atau mati. (Ibrahim. C,1996 : 137)

4. Pemeriksaan Perkusi

Pemeriksaan perkusi adalah memeriksa klien dengan mengetuk lutut bagian depan menggunakan refleks hammer untuk mengetahui kemungkinnan klien mengalami kekurangan vitamin B1. (Syahlan. JH, 1993 : 68)

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan labotarium (urin dan darah) kalau perlu rontgen, ultrasonografi dan Non Stres Test (NST). (Santosa. NI, 1996 : 6 )

Analisa Data, Diagnosa, Masalah, Kebutuhan

Analisa, diagnosa, masalah adalah interpretasi dan data ke dalam masalah-masalah yang khusus atau diagnosa-diagnosa. (Varney, 1997 : 25)

Hasil dari perumusan masalah merupakan keputusan yang ditegakkan oleh bidan yang disebut diagnosa kebidanan.

Diagnosa kebidanan mencakup : kondisi klien yang terkait dengan masalah-masalah utama dan penyebab utamanya (tingkat resiko), masalah potensial dan prognosa (Syahlan, 1995 : 9)

Masalah potensial adalah masalah yang mungkin timbul dan bila tidak segera diatasi akan mengganggu keselamatan hidup klien. (Syahlan, 1995 : 10)

Analisa data dalam rangka menentukan diagnosa atau masalah klien meliputi pengelompokkan data sejenis, yang dapat menunjang untuk merumuskan suatu diagnosa, masalah ataupun kebutuhan klien. Analisa data pada klien dengan hypertensi kronis meliputi :

Diagnosa

Multi gravida dengan hypertensi kronis

Data pendukung : 1. Kehamilan lebih dari satu kali, 2. Tekanan darah arteri melebihi 140/90 mmHg, 3. Tidak terdapat protein dalam urine, 4. Oedema ekstremitas hanya sedikit atau tidak ada. (Muchtar. R, 1998 : 158)

Masalah

Adapun masalah-masalah yang timbul pada ibu hamil dengan hypertensi kronis adalah :

Gangguan rasa nyaman pusing, data pendukung : 1. Klien mengeluh kadang-kadang kepala pusing, 2. Keadaan umum ibu baik, 3. Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih.

Kebutuhan

Nasehat yang dapat dianjurkan pada ibu hamil dengan hypertensi kronis adalah sebagai berikut :

1. Istirahat (tirah baring)

2. Pemberian obat anti hypertensi

3. Diet nutrisi seimbang

4. Pemantauan kahamilan

5. Pengenalan tanda-tanda persalinan

6. Pengenalan gawat janin

Diagnosa Potensial

Diagnosa potensial terhadap kasus hypertensi kronis pada ibu hamil meliputi :

1. Toxemia Gravidarum

Data pendukung : 1. Tekanan darah ³ 140/90 mmHg, 2. Terdapat protein didalam urine, 3. Oedema pada extremitas, 4. Disertai gejala-gejala subyektif seperti sakit kepala, nyeri ulu hati, gangguan penglihatan, oliguri dan berat badan meningkat secara berlebihan.

2. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin

Data pendukung : Non Stres Test (NST)

3. Partus Prematur

Data pendukung : partus usia kehamilan £ 37 minggu.

4. Solusio Placenta

Data pendukung : 1. Keluarnya darah berwarna kehitaman yang disertai rasa nyeri, 2. Palpasi rahim teraba keras seperti papan, 3. Anemia, 4. Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah).

Perencanaan

Berdasarkan diagnosa, masalah, kebutuhan yang ditegakkan, bidan menyusun rencana tindakan. Rencana tindakan mencakup tujuan dan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh bidan dalam melakukan intervensi.

Langkah-langkah penyusunan rencana kegiatan adalah sebagai berikut :

  • Menentukan tujuan tindakan yang akan dilakukan. Di dalam tujuan dikemukakan sasaran dan hasil yang akan dicapai.
  • Menentukan kriteria evaluasi dan keberhasilan tindakan. Kriteria evaluasi dan hasil tindakan ditentukan untuk mengukur keberhasilan dan pelaksanaan asuhan yang dilakukan.
  • Menentukan langkah-langkah tindakan sesuai dengan masalah dan tujuan yang akan dicapai.
  • Langkah-langkah tindakan mencakup : kegiatan yang dilakukan secara mandiri, kegiatan kolaborasi dan rujukan. (Syahlan, 1995 : 10-11)

Perencanaan yang terdapat pada kehamilan dengan hypertensi kronis adalah sebagai berikut :

Rencana

                     Rasional

Diagnosa  

  Multigravida dengan hypertensi kronis

Tujuan :

Setelah dua minggu dilakukan       asuhan kebidanan maka gejala hypertensi kronis hilang

Kriteria hasil :

Tekanan darah £ 140/90 mmHg, pemeriksaan kehamilan normal

Rencana

  Jelaskan pada klien tentang kehamilan nya dan hal-hal yang harus  diperhatikan

 

Anjurkan pada klien istirahat yang cukup setidakanya 1 jam pada siang hari dan 10 jam pada tidur malam.

Anjurkan pada klien untuk mengkonsumsi diet gizi seimbang.

 

 

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti hypertensi.

 

Jelaskan tanda-tanda bahaya kehamilan dan anjurkan untuk segera ke rumah sakit bila ada tanda-tanda itu.

 

Anjurkan pada klien untuk kontrol satu minggu atau sewaktu-waktu bila ada keluhan.

Masalah

Gangguan rasa nyaman, pusing

Tujuan :

Setelah 7 hari dilaksanakan asuhan kebidanan pada klien dengan hypertensi kronis rasa nyaman terpenuhi

Kriteria :

Keluhan kepala pusing tidak ada tekanan darah £ 140/90 mm Hg klien merasa nyaman

Rencana :

Kaji penyebab timbulnya rasa pusing pada klien

 

 

Jelaskan pada klien tentang cara mengatasi rasa pusing

 

 

Anjurkan pada klien untuk sering jalan-jalan pagi hari sesuai batas kemampuan

 

 

 

Kebutuhan:

HE  tentang kehamilan resiko tinggi .

Tujuan :

Setelah diberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil multigravida dengan hypertensi kronis selama 24 jam, klien memahami akan kehamilannya.

Kriteria :

Ekspresi wajah tenang

perasaan khawatir hilang 

istirahat cukup

Rencana :

Kaji penyebab rasa cemas dan pengaruh rasa cemas dan pengaruh cemas terhadap kehamilan

 

Anjurkan pada klien untuk sering menyimak berita soal kehamilan seperti majalah, TV atau radio

Berikan dukungan dan juga dari keluarga secara ramah dan tenang terhadap kehamilan klien

 

Anjurkan untuk kontrol teratur setiap satu minggu sekali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan penjelasan yang diberikan diharapkan klien mengerti dan memahami kelainan pada kehamilannya sehingga termotivasi untuk mengatasi masalah yang timbul

Keuntungan tirah baring dapat meningkatkan perfusi uteroplacenta terutama pada posisi tidur miring kiri.

Dengan mengkonsumsi diet gizi seimbang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan metabolisme klien dan pertumbuhan janin didalam rahim.

Dengan melakukan kolaborasi, bidan melakukan fungsi dependent untuk membantu mempertahankan kondisi klien.

Dengan mengetahui tanda-tanda berbahaya kehamilan diharapkan klien dapat segera mengambil keputusan yang cepat dan tepat.

Dengan kontrol teratur diharapkan kesejahteraan ibu dan janin dapat dipantau dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan mengetahui penyebab rasa pusing, intervens yang diberikan diharapkan dapat lebih mengena faktor penyebabnya.

 Dengan penjelasan alternatif-alternatif cara mengatasi/mengurangi pusing diharapkan dapat mengurangi masalah klien

Dengan jalan-jalan pagi akan menyebabkan relaxasi otot sehingga kehamilan dan persalinan dapat berlangsung dengan baik, dan yang lebih penting klien akan nampak selalu segar dan sehat

 

Cemas yang berlebihan dapat menyebabkan vasukonstriksi sehingga terjadi vasuspasme dan akhirnya menambah peningkatan tekanan darah

Dengan pengetahuan diharapkan dapat mengurangi tingkat kecemasan klien

 

Dengan dukungan dari orang-orang terdekat, diharapkan dapat mengurangi beban psikis klien karena lingkungan banyak yang peduli terhadap klien

Dengan kontrol teratur, dapat dipantau kesejahteraan janin sehingga mengurangi kecemasan klien terhadap keadaan bayinya

Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Beberapa prinsip dalam pelaksanaan tindakan meliputi :

Tindakan kebidanan apa yang dapat dikerjakan sendiri, dibantu atau dilimpahkan kepada staf lainnya, kepala klien atau keluarga serta di rujuk kepada tenaga lain dari team kesehatan.

Penguasaan pengetahuan dan ketrampilan bidan tentang tindakan yang dilakukan.

Mengamati hasil dari tindakan yang diberikan petugas kesehatan.

dan mengadakan konsultasi atau Mencatat jika perlu dilakukan rujukan. (Santosa. NI, 1993 : 131-132)

Mencatat dan mengadakan konsultasi jika perlu di lakukan perujukan (Santosa. NI, 1993 : 131-132)

Evaluasi

Evaluasi tindakan merupakan langkah terakhir dalam melaksanakan manajemen kebidanan. Setelah dilakukan evaluasi, bidan merencanakan pada klien yang telah dilakukan tindakan kebidanan, perlu atau tidak melakukan follow up. Apabila perlu dilakukan follow up, harus direncanakan bentuk dan waktu follow up terhadap klien. Sehingga klien mendapatkan asuhan kebidanan yang kompresiensif dan berkesinambungan. (Santosa. NI, 1993 : 132).

[+/-] Selengkapnya...

LETAK SUNGSANG

This item was filled under

1. KONSEP DASAR TEORI

PENGERTIAN

Letak sungsang adalah letak memanjang dengan bokong sebagai bagian yang terendah ( Presentasi Bokong). Angka kejadian : ± 3 % dari seluruh angka kelahiran.

PATOFISIOLOGI

Letak sungsang dapat terjadi akibat dari ;

  1. Terdapat tumor dalam rongga uterus.
  2. Terbentuknya segmen bawah rahim.
  3. Hidramion.

Adapun letak sungsang dapat dibagi menjadi sebagai berikut :

  1. Letak bokong murni ; prensentasi bokong murni (Frank Breech). Bokong saja yang menjadi bagian terdepan sedangkan kedua tungkai lurus keatas.
  2. Letak bokong kaki (presentasi bokong kaki) disamping bokong teraba kaki (Complete Breech). Disebut letak bokong kaki sempurna atau tidak sempurna kalau disamping bokong teraba kedua kaki atau satu kaki saja.
  3. Letak lutut (presentasi lutut) dan
  4. Letak kaki , yang keduanya disebut dengan istilah ; Incomplete Breech.

Tergantung pada terabanya kedua kaki atau lutut atau hanya teraba satu kaki atau lutut disebut letak kaki atau lutut sempurna dan letak kaki atau lutut tidak sempurna.

Dari semua letak-letak ini yang paling sering dijumpai adalah letak bokong murni. Punggung biasanya terdapat kiri depan. Frekuensi letak sungsang lebih tinggi pada kehanilan muda dibandingkan dengan kehamilan a`terme dan lebih banyak pada multigravida dibandingkan dengan primigarvida.

PENGERTIAN SEKSIO SESAREA

Salah satu cara dalam mengatasi keadaan tersebut adalah dengan tindakan operatif yaitu persalinan dengan cara tindakan seksio sesarea. Dimana apabila cara-cara lain dianggap tidak berhasil atau syarat-syarat untuk dilakukanya tindakan tidak terpenuhi atau kondisi ibu memerlukan tindakan yang segera yang apabila tidak segera dilakukan akan berakibat fatal.

Seksio sesarea adalah cara persalinan buatan dengan suatu tindakan operasi/pembedahan untuk mengeluarkan janin dari rongga uterus dengan cara mengiris dinding perut dan dinding uterus dengan syarat rahim dengan keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram.

II. KONSEP DASAR ASKEP

A. PENGKAJIAN

Data yang dikaji pada ibu bersalin dengan letak sungsang adalah :

  1. Data subyektif :

- Biasanya sering terjadi pada multi gravida gravida , kehamilan muda.

- Riwayat kesehatan ibu sekarang : bila tidak terdapat kelainan yang berat ibu biasanya mengeluh pergerakan janin terasa dibagian perut bawah, di bawah pusat dan ibu sering merasa benda keras ( kepala) mendesak tulang iga.

- Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial, hipertensi kronik, DM

- Riwayat kehamilan : riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklamsia atau eklamsia .

- Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun selingan

- Psiko sosial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya

  1. Data Obyektif :

- Inspeksi : untuk mengetahui bentuk pembesaran uterus.

- Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema

- Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress

- Pemeriksaan penunjang :

· Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur 2 kali dengan interval 6 jam.

· Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada otak

· USG ; untuk mengetahui keadaan janin

· NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin

· TBJ : untuk mengetahui berat janin.


B. MASALAH KEPERAWATAN

1. Gangguan Rasa nyaman (nyeri ) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf yang di tandai dengan keluhan nyeri, ekpresi wajah menyeringai.

2. Gangguan eleminasi miksi (retensi urine ) berhubungan dengantrauma mekanik , manipulasi pembedahan adanya edema pada jaringan sekitar dan hematom, kelemahan pada saraf sensorik dan motorik.

3. Kurang pengetahuan tentang efek pembedahan dan perawatan selanjutnya berhubungan dengansalah dalam menafsirkan imformasi dan sumber imformasi yang kurang benar.

C. PERENCANAAN

Perencanaan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah di tentukan dengan tujuan, criteria hasil, rencana tindakan atau intervensi dan rasional tindakan (Depkes RI 1991 ; 20 ).

Intervensi keperawatan pada diagnose Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf. :

1) Kaji tingkat rasa tidak nyaman sesuai dengan tingkatan nyeri.

2) Beri posisi fowler atau posisi datar atau miring kesalah satu sisi.

3) Ajarkan teknik releksasi seperti menarik nafas dalam, bimbing untuk membayangkan sesuatu. Kaji tanda vital : tachicardi,hipertensi, pernafasan cepat.

4) Motivasi klien untuk mobilisasi didni setelah pembedahan bila sudah diperbolehkan.

5) Laksanakan pengobatan sesuai indikasi seperti analgesik intravena.

6) Observasi efek analgetik (narkotik )

7) Obervasi tanda vital : nadi ,tensi,pernafasan.

Intervensi keperawatan pada diagnose keperawatan gangguan eleminasi miksi (retensi urine ) berhubungan dengan trauma mekanis, manipulasi pembedahan, oedema jaringan setempat, hematoma, kelemahan sensori dan kelumpuhan saraf.

1) Catat pola miksi dan minitor pengeluaran urine

2) Lakukan palpasi pada kandung kemih , observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri.

3) Lakukan tindakan agar klien dapat miksi dengan pemberian air hangat, mengatur posisi, mengalirkan air keran.

4) Jika memakai kateter, perhatikan apakah posisi selang kateter dalam keadaan baik, monitor intake output, bersihkan daerah pemasangan kateter satu kali dalam sehari, periksa keadaan selang kateter (kekakuan,tertekuk )

5) Perhatikan kateter urine : warna, kejernihan dan bau.

6) Kolaborasi dalam pemberian dalam pemberian cairan perperental dan obat obat untuk melancarkan urine.

7) Ukur dan catat urine yang keluar dan volume residual urine 750 cc perlu pemasangan kateter tetap sampai tonus otot kandung kemih kuat kembali.

Intervensi keperawatan pada diagnose keperawatan Kurangnya pengetahuan tentang perawatan luka operasi, tanda-tanda komplikasi, batasan aktivitas, dan perawatan selanjutnya berhubungan dengan terbatasnya imformasi.

1) Jelaskan bahwa tindakan seksio sesarea mempunyi kontraindikasi yang sedikit tapi membutuhkan waktu yang lama untuk pulih, mengguanakan anatesi yang banyak dan memberikan rasa nyeri yang sangat setelah operasi.

2) Jelaskan dan ajarkan cara perawatan luka bekas operasi yang tepat

3) Motivasi klien melakukan aktivitas sesuai kemampuan.

4) Jelaskan aktivitas yang tidak boleh dilakukan.

D. IMPLEMENTASI

Pelaksanaan disesuaikan dengan intervensi yang telah ditentukan

E. EVALUASI

Evaluasi disesuaikan dengan criteria hasil yang telah ditentukan

[+/-] Selengkapnya...